Essai SulselKita.id
(Edisi Maret 2026)
Mereka menyangka syahid adalah senyap, padahal ia gema yang tak pernah lenyap. Tubuhnya boleh rebah, namun hidupnya justru merekah. Ia pergi dari pandangan, tetapi menetap dalam setiap keberanian yang menolak tunduk dan dalam setiap dada yang masih bergetar oleh kebenaran.
Dalam ajaran keluarga Nabi, kematian di jalan kebaikan bukanlah kehilangan, melainkan kepulangan. Bukan akhir perjalanan, melainkan perjamuan cahaya yang tak terkatakan. Yang gugur demi Yang Hak tidak jatuh ke dalam gelap. Ia terangkat menuju hidup yang lebih lapang, di mana ruh dicukupkan dan namanya menjelma doa yang berulang-ulang di bibir zaman.
Lihatlah di padang Karbala, pedang-pedang merobek tubuh, namun tak mampu memutus cahaya. Darah mengalir, dan dari alirannya tumbuh jutaan langkah yang tetap tegak, meski dunia membungkuk ke arah yang salah.

Para arif seperti Ibnu Arabi menyebutnya fana dalam cinta. Lenyap bukan sebagai ketiadaan, melainkan sebagai penyatuan dengan Yang Abadi. Menurut Rumi, kematian bagi pecinta adalah gerbang pertemuan. Maka kesyahidan bukan tragedi, melainkan tenaga yang mengubah duka menjadi daya, air mata menjadi bara, dan kehilangan menjadi panggilan.
Dalam cangkang itu, kesetiaan tokoh seperti Ali Khamenei dipahami sebagai simbol keteguhan pada nafas gerakan bahwa hidup paling tinggi adalah hidup yang rela habis demi kebenaran yang tak bisa mati. Sebab syahid tidak menutup kisah. Ia menulis bab baru dengan darah yang bersaksi, dan setiap tetesnya berima lirih: yang gugur demi cinta tak pernah benar-benar tiada.
Selamat jalan, selamat atas syahadahnya. Salam hormat untuk datukmu. Insya Allah panjang umur perjuangan. Dan mohon maaf jika belum sepenuhnya lapang di dada.
*Enre Masagena
Penulis
