Essai SulselKita.id
(Edisi Maret 2026)
Di lorong sejarah yang penuh debu dan darah, nama Ali Khamenei berdiri seperti batu yang tak mudah retak oleh angin zaman. Ia bukan sekadar pemimpin, tetapi saksi dari keyakinan yang tak tunduk pada gemuruh ancaman.
Dalam tubuhnya yang renta oleh usia dan luka masa lalu, ada bara yang tak pernah padam, bara yang menyala dari sujud panjang dan doa yang tak putus.
Kesahidan, baginya, bukan romantika kematian, melainkan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Ia tahu bahwa perlawanan bukanlah teriakan yang gaduh, tetapi keteguhan yang diam-diam menguat seperti akar yang mencengkeram bumi.

Di hadapan kekuatan yang congkak dan angkuh, yang terus-menerus menabur ketakutan. Ia memilih tetap berdiri meski dunia seakan membungkuk ke arah yang salah.
Keyakinannya adalah napas yang tak pernah usai. Ia belajar dari luka, bahwa kehormatan tak bisa dibeli dengan kompromi pada kezaliman. Maka ia melangkah, bukan dengan pedang kebencian, tetapi dengan keberanian yang lahir dari iman.
Ia menolak tunduk pada kebiadaban, bukan demi kuasa, tetapi demi martabat manusia yang diinjak oleh keserakahan. Ia terus berjuang demi keadilan yang terus menerus dikubur oleh hasrat dan kebodohan.
Namun di balik ketegasan itu, ada kesederhanaan yang nyaris sunyi. Rumah yang bersahaja, hidup yang jauh dari gemerlap, dan hati yang lebih akrab dengan sajadah dari pada singgasana.
Ia tahu, sebesar apa pun gelombang sejarah, manusia tetaplah hamba. Dan sujud adalah pengingat paling jujur tentang siapa kita di hadapan Yang Maha Kuasa.
Maka hari ketika tubuhnya rebah oleh bom, yang tersisa bukan sekadar kenangan, melainkan gema bahwa ada manusia yang memilih tegak ketika banyak orang memilih selamat, yang memilih setia ketika dunia berkhianat, yang memilih bersujud pada Tuhan ketika kekuasaan menggoda untuk menjulang bersama hasrat.
Dalam gema itu, keyakinan akan terus hidup, mendentum lebih kuat dari ancaman dan lebih lama dari usia, melalui diri-diri dan anak-anak kita. Sebab dari presiden kita, masih mencari bentuk melalui doa-doa yang kita desakkan ke langit.
*Fauzi Maddukkelleng
Penulis
