Sulselkita.id, Wajo – Di tengah meningkatnya kompleksitas persoalan yang dihadapi perempuan, mulai dari tekanan akademik, tuntutan sosial, kekerasan berbasis gender, hingga tantangan di era digital, kesehatan mental menjadi fondasi utama dalam mewujudkan perempuan yang berdaya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak dapat dipisahkan dari kemampuan individu menjaga kesejahteraan psikologisnya.
World Health Organization (WHO) mendefinisikan kesehatan mental sebagai kondisi ketika individu mampu mengenali potensi dirinya, mengelola tekanan kehidupan, bekerja secara produktif, serta memberikan kontribusi bagi masyarakat. Dengan demikian, perempuan yang berdaya bukan hanya mereka yang memiliki pendidikan tinggi atau posisi strategis, melainkan perempuan yang memiliki ketangguhan mental, mampu mengambil keputusan secara rasional, serta memiliki kepercayaan diri untuk mengembangkan potensinya.
Pandangan tersebut sejalan dengan teori Abraham Maslow mengenai aktualisasi diri yang menempatkan kesehatan psikologis sebagai prasyarat berkembangnya seluruh potensi manusia. Sementara itu, Carol D. Ryff menjelaskan bahwa kesejahteraan psikologis ditandai oleh penerimaan diri, tujuan hidup, kemandirian, hubungan sosial yang sehat, kemampuan mengelola lingkungan, dan pertumbuhan pribadi. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa perempuan dengan agency atau kapasitas menentukan pilihan hidup cenderung memiliki tingkat tekanan mental yang lebih rendah dan kualitas hidup yang lebih baik. (arXiv)
Dalam konteks organisasi, Korps HMI-Wati (KOHATI) memiliki posisi strategis untuk membangun perempuan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental. Pedoman Dasar KOHATI menegaskan bahwa tujuan organisasi adalah “terbinanya Muslimah berkualitas insan cita”, dengan fungsi sebagai bidang pemberdayaan perempuan serta wadah pengembangan potensi HMI-Wati. Selain itu, materi perkaderan KOHATI secara eksplisit memuat pembahasan mengenai psikologi perempuan, kesehatan reproduksi, kekerasan terhadap perempuan, dan analisis gender sebagai bekal kader menghadapi persoalan keperempuanan secara ilmiah dan solutif. (Scribd)
Hal tersebut menunjukkan bahwa KOHATI tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas kepemimpinan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesehatan mental kader. Mental yang sehat menjadi modal bagi HMI-Wati untuk menjalankan peran sebagai intelektual, aktivis, pemimpin, maupun agen perubahan di tengah masyarakat.
Di era media sosial, perempuan kerap dihadapkan pada standar kecantikan yang tidak realistis, budaya perbandingan (social comparison), hingga tekanan untuk selalu tampil sempurna. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kecemasan, rendahnya penghargaan diri (self-esteem), bahkan kelelahan emosional (burnout). Oleh karena itu, kader KOHATI dituntut memiliki kesadaran kritis dalam menyikapi berbagai konstruksi sosial yang dapat memengaruhi kesehatan mental perempuan.
Sebagai organisasi kader, KOHATI memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan ruang belajar yang aman, inklusif, dan suportif. Penguatan literasi kesehatan mental, budaya saling mendukung antarkader, pendampingan psikososial, serta pembentukan kepemimpinan yang empatik merupakan langkah strategis untuk melahirkan perempuan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.
Pada akhirnya, pemberdayaan perempuan bukan sekadar meningkatkan representasi perempuan dalam berbagai sektor, melainkan membangun kualitas manusia secara utuh. Perempuan yang sehat mentalnya akan lebih siap menghadapi tantangan zaman, memperjuangkan nilai-nilai keadilan, serta menjalankan misi KOHATI dalam mewujudkan Muslimah Berkualitas Insan Cita. Dengan demikian, perjuangan KOHATI tidak hanya melahirkan kader yang mampu memimpin organisasi, tetapi juga perempuan yang mampu memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin masyarakat.
Penulis : Ulfa Dwiyanti
Kohati Cabang Bone
