SulselKita.id, Essai – Konsep diri merupakan gambaran menyeluruh mengenai bagaimana individu mengenali, memahami, menilai, dan mengembangkan dirinya. Dalam perspektif psikologi, konsep diri menjadi fondasi pembentukan kepribadian karena memengaruhi cara seseorang berpikir, bersikap, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan lingkungan. Bagi Korps HMI-Wati (KOHATI), konsep diri tidak hanya dipahami sebagai kesadaran individual, tetapi juga sebagai proses pembentukan pribadi muslimah yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan mampu menjalankan fungsi pengabdian kepada agama, bangsa, dan masyarakat. Oleh karena itu, Pedoman Dasar KOHATI menempatkan pembentukan kualitas diri sebagai bagian penting dalam proses kaderisasi.
Pedoman Dasar KOHATI menekankan empat aspek utama dalam pembentukan kualitas pribadi kader, yaitu merawat diri, cara berbusana, table manner, serta pengembangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Keempat aspek tersebut merupakan bentuk implementasi konsep diri yang utuh.
Merawat diri bukan sekadar aktivitas menjaga kebersihan atau penampilan fisik, melainkan bentuk penghargaan terhadap diri sebagai amanah dari Allah Swt. Perawatan diri mencerminkan kesadaran bahwa tubuh dan kesehatan merupakan modal utama dalam menjalankan peran sebagai kader, perempuan, maupun anggota masyarakat. Sementara itu, cara berbusana dipandang sebagai representasi identitas seorang muslimah. Busana yang sopan, sesuai syariat, dan tetap mencerminkan profesionalisme menunjukkan bahwa konsep diri seorang kader tidak hanya dibangun dari aspek internal, tetapi juga tercermin melalui perilaku dan penampilannya di ruang publik.

Aspek table manner mengajarkan etika, kesopanan, kemampuan beradaptasi, dan penghormatan terhadap orang lain dalam berbagai situasi formal maupun informal. Penguasaan etika sosial tersebut menjadi indikator kematangan konsep diri karena menunjukkan kemampuan individu dalam menempatkan dirinya secara tepat sesuai konteks sosial. Selanjutnya, pengembangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual menjadi landasan utama kaderisasi KOHATI. Kecerdasan intelektual mendorong kemampuan berpikir kritis dan analitis, kecerdasan emosional membentuk kemampuan mengelola emosi, empati, dan komunikasi interpersonal, sedangkan kecerdasan spiritual memperkuat orientasi hidup yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Integrasi ketiga kecerdasan tersebut menghasilkan pribadi kader yang seimbang antara kemampuan akademik, kematangan emosional, dan kedalaman spiritual.
Dalam kajian keperawatan jiwa dan psikologi, konsep diri terdiri atas lima komponen utama, yaitu citra diri, ideal diri, harga diri, peran diri, dan identitas diri. Kelima komponen tersebut saling berkaitan dan dapat dihubungkan dengan nilai-nilai yang dikembangkan dalam Pedoman Dasar KOHATI.
Citra diri (body image/self-image) merupakan persepsi individu terhadap kondisi fisik dan karakter dirinya. Dalam konteks KOHATI, citra diri dibangun melalui kebiasaan merawat diri, menjaga kesehatan, serta berpenampilan rapi, santun, dan sesuai dengan nilai-nilai keislaman. Citra diri yang positif akan meningkatkan rasa percaya diri sekaligus mencerminkan penghormatan terhadap martabat perempuan.
Ideal diri (ideal self) menggambarkan sosok yang ingin dicapai oleh individu di masa depan. Pedoman Dasar KOHATI mengarahkan kader untuk memiliki orientasi menjadi muslimah yang berintegritas, berwawasan luas, memiliki kemampuan kepemimpinan, serta berkontribusi dalam perubahan sosial. Ideal diri tersebut menjadi motivasi bagi kader untuk terus meningkatkan kualitas diri melalui proses belajar dan pengembangan kapasitas.
Harga diri (self-esteem) merupakan penilaian individu terhadap nilai dan keberhargaan dirinya. Harga diri yang sehat akan tumbuh ketika seseorang mampu menghargai pencapaian, menerima kekurangan, serta memperoleh apresiasi yang proporsional dari lingkungan. Dalam proses kaderisasi KOHATI, penghargaan terhadap potensi kader dilakukan melalui pemberian ruang aktualisasi, tanggung jawab organisasi, serta kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan.
Peran diri (role performance) berkaitan dengan kemampuan individu menjalankan berbagai peran sosial yang dimilikinya. Seorang kader KOHATI memiliki peran sebagai muslimah, mahasiswa, anak, anggota organisasi, sekaligus agen perubahan (agent of change). Kemampuan menjalankan berbagai peran tersebut secara seimbang mencerminkan konsep diri yang matang.
Adapun identitas diri (personal identity) merupakan kesadaran mengenai siapa dirinya, nilai yang diyakini, dan tujuan hidup yang ingin dicapai. Identitas kader KOHATI dibangun melalui internalisasi nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, keilmuan, dan ke-HMI-an sehingga melahirkan pribadi yang memiliki prinsip hidup, integritas moral, serta komitmen terhadap perjuangan organisasi.
Pembentukan konsep diri tidak terlepas dari berbagai faktor yang memengaruhinya. Pertama, lingkungan, baik keluarga, sekolah, organisasi, maupun masyarakat, memberikan pengalaman sosial yang membentuk cara individu memandang dirinya. Lingkungan yang suportif akan memperkuat rasa percaya diri dan mendorong berkembangnya potensi individu. Kedua, pola asuh orang tua menjadi fondasi awal terbentuknya konsep diri. Pola asuh yang demokratis dan penuh penghargaan cenderung menghasilkan individu yang mandiri dan memiliki harga diri positif, sedangkan pola asuh yang otoriter atau permisif dapat memengaruhi perkembangan konsep diri secara kurang optimal. Ketiga, pengalaman hidup, baik keberhasilan maupun kegagalan, menjadi proses pembelajaran yang membentuk ketahanan psikologis dan cara individu mengevaluasi dirinya.
Konsep diri dalam Pedoman Dasar KOHATI juga dapat dianalisis menggunakan Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow. Menurut Maslow, manusia memiliki lima tingkatan kebutuhan yang harus dipenuhi secara bertahap agar mampu mencapai perkembangan diri secara optimal.
Pada tingkat kebutuhan fisiologis, pemenuhan kebutuhan dasar seperti kesehatan, nutrisi, dan kebersihan berkaitan dengan praktik merawat diri yang ditekankan dalam Pedoman Dasar KOHATI. Perawatan diri menjadi bentuk tanggung jawab terhadap kondisi fisik sebagai modal menjalankan aktivitas akademik, organisasi, maupun pengabdian.
Tingkat berikutnya adalah kebutuhan akan rasa aman, yang mencakup keamanan fisik, psikologis, dan moral. Cara berbusana yang sesuai dengan nilai-nilai Islam tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga memberikan rasa aman, kenyamanan, dan penghormatan terhadap diri sendiri. Lingkungan organisasi yang inklusif serta budaya kaderisasi yang saling mendukung juga berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan rasa aman bagi kader.
Selanjutnya, kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki (belongingness) diwujudkan melalui interaksi sosial, ukhuwah, solidaritas, dan kerja sama antarkader. KOHATI menjadi ruang bagi perempuan untuk membangun relasi, bertukar pengalaman, serta memperoleh dukungan emosional yang memperkuat konsep diri.
Pada tingkat kebutuhan penghargaan (esteem needs), kader memperoleh pengakuan melalui prestasi akademik, kontribusi organisasi, kemampuan kepemimpinan, maupun penghormatan dari lingkungan. Pengalaman tersebut akan meningkatkan harga diri dan memperkuat keyakinan terhadap kemampuan yang dimiliki.
Puncak hierarki Maslow adalah aktualisasi diri (self-actualization), yaitu kemampuan individu mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya. Dalam perspektif KOHATI, aktualisasi diri tercermin melalui penguasaan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan yang berintegritas, serta pengabdian nyata kepada masyarakat. Seorang kader tidak hanya berkembang untuk kepentingan pribadi, tetapi juga mengaktualisasikan potensinya sebagai pelopor perubahan yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan cita-cita HMI.
Dengan demikian, konsep diri dalam Pedoman Dasar KOHATI merupakan proses pembentukan pribadi yang holistik. Pembentukan tersebut mencakup pengembangan aspek fisik, psikologis, sosial, intelektual, emosional, dan spiritual yang dipengaruhi oleh lingkungan, pola asuh, serta pengalaman hidup. Jika ditinjau melalui teori Abraham Maslow, seluruh proses kaderisasi KOHATI pada hakikatnya berupaya memenuhi kebutuhan dasar hingga mengantarkan kader mencapai aktualisasi diri sebagai muslimah intelektual yang berkarakter, berintegritas, dan mampu memberikan kontribusi bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Oleh
Ulfa Dwianti (Bone)
Perserta LKK – Kohati HmI Cabang Wajo
